Welcome

Lets play with our soul

Tuesday, June 16, 2009

hujan bulan mei

hujan di bulan Mei
diujung sore kamarku
deras mengguyur
diiringi gemuruh angin
dan desisan kilat diudara
 
ah aku hanya manusia biasa
yang punya sejuta keterbatasan
bukan aku tak mau penuhi janjiku
tapi tak sedikitpun daya tersisa
tersedot semua oleh ketamakan beban
 
aku tahu kau menunggu
dengan seutas belenggu rindu
sementara sayapmu terpasung erat
oleh jutaan jurang pembeda kita
 
aku hanya bisa meringis pasrah
deru risau mengalahkan derasnya hujan
sementar petir terus menyanyi
iringi hatiku yang membeku
 
matakupun terpejam menahan isak
dan kutitipkan maafku pada angin
dengan hujan sebagai saksinya
berharap kau memaafkanku
 
 

Friday, June 12, 2009

toples yang terluka

tutur kata pahit
kian getir dan terus
semakin kau mengenalku
semakin bertambah
 
kau kucurkan semua
bagai hujan silet
aku yang telanjang
hanya bisa terpejam
 
apakah demikian cinta
saling terbuka segalanya
dan ketika emosi menerpa
mencabik tanpa sisa
 
salahku mungkin
bagai toples kaca
tak secuilpun tempat
ketika dipermalukanmu
 
 

Monday, June 08, 2009

Hujan


Lemah


Sekedar menyapa


disini


Sesaat


Aku dan takdirku


Diam


Merangkai harapan


Belahan jiwaku


Kenangan


Dia sudah mati


Dia


Langitpun lelah


Marah

sayang bersabarlah,
jalani beratnya liku
romantika aneka rasa
pentas drama kehidupan

marahlah, harus
jika semua tak seperti maumu
marahlah, rubahlah
seperti inginmu

marahmu adalah solusis
ebuah obat mujarab
sembuhkanlah kekesalanmu
rasa muakm

umarahmu adalah kesejukan
padamkan, bekukan
perlahan carikan
tundukkan dan taklukkan

kamu bukan api
kamu embun pagiku

Surga dalam dosa

masih disni
berpeluh binaran
berselimukan dentuman
bermandi gerimis manis

angin jingga
tusuk raga, meluka
melahap tanpa sisa
kosong, hampa

maaf surga
langkah menjauh
tersesat kutukan
sepi, lari

aku tersesat jauh
aku ingin sembuh
aku menikmatinya
aku semakin jauh

Kekasih menunggu


Maafkan aku maafkan

tersakiti


Menunggu pagi-3


Menunggu pagi-2

entah apa rasaku
seakan melayang dalam gelap
sukmakupun tersakiti
oleh lelah berkepanjangan

rindu padamu menyeruak
menguliti detak jantungku
coba menghangatkan
tapi malah menghangus leburkan

terus terpaku
ditengah debu malam
digrogoti asap daun sebatang
kucoba usir kegalauan

malam,
kapankah kau pergi

Menunggu pagi-1


Marah


Lonely


Kesedihan-2


Kesedihan-1


Where


Ketulusan embun


Aku mati, sayangku


Jalanku


dilema




Nyanyian pinus

pucuk pinus menari
disiang hari terik
riang melenggak-lenggok
ikuti alunan riuh angin kemarau

dua burung kutilang remaja
belajar terbang diantara dahan
tanpa lelah terus berkejaran
diiringi lagu merdu bersautan

tepat dibawahnya
pemuda perkasa duduk rebah
nikmati waktu jeda
tanganya memegang erat
bambu pemikul yang masih terkait
pada kuping dua jembung penuh
liur pinus yang katanya mahal
yang tiap hari dikaisnya

kini
burung dan pemuda
saling rindu
karena pinus telah musnah

Dipersimpangan

debu mengambang didepanku
berkilauan dipermainkan angin
bermandikan lampu merkuri
tak lelah menari menyesakkan nafasku

kutundukkan wajah
berusaha usir kebosanan
dengan memcahkan bayang ketakutan
yang terukir rapi di legamnya aspal

angin malam bawa kekuatan
untukku coba menatap hadapi
rajam pilu bimbang dipersimpangan
tapi hanya sekejap dan aku tak kuat lagi

biarlah aku disini, disini
menunggu waktu yang putuskan
biarlah takdir yang tentukan
aku harus beringsut kemana

Sunday, June 07, 2009

Pahatan awal

ketika jutaan aksara jiwa melintas
aku hanya bisa meracau
memahatnya bersama angin
dan menguap sekejap rasa

aku ingin memulai
membangun rumah ilhamku
tempat aku berlari
tempat aku sembunyi

sebuah awal, tentang segalanya

About Me

My photo
Jakarta - Kota, DKI Jakarta, Indonesia
jeffry.skynet@yahoo.com